Laman

Tampilkan postingan dengan label GAK PENTING.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GAK PENTING.... Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Februari 2017

Revival

Dari 2012 ke 2017...

Setelah sekian lama blog ini nonaktif, mulai saat ini akan coba dihidupkan kembali, coba dimanfaatkan kembai paling tidak untuk sekedar menulis unek-unek yang sempat berkecamuk di pikiran sebagai sarana untuk menghidupkan "sel - sel kelabu" 「久しぶりですね、そのセリフは。」

Not so much to be called a true revival, but at least this is a proof that the person who own this blog is still alive and able to write something. Maybe in a few post ahead not so much focused in some topic, still random as before, but i try to make it more organized... well, let's see...

Blog ini juga nantinya akan coba digunakan sebagai salah satu sarana peningkatan kemampuan bahasa, terutama bahasa asing (English & 日本語), jadi komentar untuk perbaikan dalam hal tata bahasa, kosakata, maupun lainnya sangat diharapkan dan saya akan sangat berterimakasih.

今回はここまでです。
また、次のポストを待ってください。

Rabu, 05 Desember 2012

Korban?

Ide jail tiba tiba muncul saat perjalanan dari fakultas ke gelanggang UGM, persis pas lewat depan RSUP dr. Sardjito. Ini tentang seorang pemimpin.

"Pemimpin itu terkorban, sementara dipimpin itu berkorban"
Well... maksudnya apa? Sempat beberapa menit asyik dengan imajinasi sendiri, bermain main dengan sel - sel kelabu yang dianugerahkanNYA. Apa bedanya ter- dan ber-...? apa maksudnya pemimpin itu selalu dapet ga enaknya? atau selalu 'sial'?... haha.. bukan kok :)

Dari pendapat pribadi maksud dari terkorban itu pasti... harus, wajib, kudu.... Jadi pemimpin itu mau gak mau, dan pasti karena itu wajib... dia akan berkorban atas apa yang ia pimpin. Contoh kecil aja, pemimpin itu pasti dan harus memikirkan seluruh hal yang dia pimpin toh? ya namanya aja pemimpin... harus tau segalanya (kaya'nya berlebihan) tentang apa yang dia pimpin. Karenaaaa...... yak, saya yakin sudah tahu jawabannya... karena Pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin... So kalau ada sedikit saja hal yang "kurang benar" terjadi, maka sang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban oleh 'Pihak Yang Berwenang'.

Nah, maksud dari dipimpin itu berkorban... yaa.... dipimpin itu juga pasti ada pengorbanan. Yakin kan setiap hal yang dilakukan itu pasti ada pengorbanan yang dilakukan? nah begitupun ini, sekalipun bukan pada posisi yang memimpin, tetap ada hal yang dikorbankan dari si terpimpin ini. Bedanya... nah akhirnya ketemu kan bedanya apa?... bedanya untuk hal ini dia tidak mengikat. Kalau pemimpin itu pasti... wajib, fardhu 'ain... kalau dipimpin itu tidak mengikat... (fardhu kifayah atau sunnah muakkadah ya? :P ). Beban pengorbanan itu ada tapi tidak harus dipikul, dia tidak hilang tapi tidak terikat... ya begitulah

Agak aneh memang kenapa tiba tiba mikir beginian... toh juga jadinya gak jelas kan apa yang dipikirin? (setelah baca ulang 2 alenia diatas) tapi ya setidaknya cukup senang karena bisa bermain main lagi dengan sel - sel kelabu serta mengupayakan cahaya dalam diri... yang akhirnya jadi bisa bikin tulisan :D

Senin, 22 Oktober 2012

Singularitas

Sekali waktu, sikap dan kebiasaan diri berubah. Seperti tidak menjadi diri sendiri...
Dan itu terjadi...

Sekali waktu, beberapa hal berjalan tidak seperti yang direncanakan dan dibayangkan...
Dan itu terjadi...


Sekali waktu, orang disekitarmu tiba tiba berbeda. Entah apa itu namun berbeda ...
Dan itu terjadi...
Seperti tertarik oleh kekuatan yang tidak bisa dilawan. Terjebak dalam suatu kondisi yang sulit dipahami. Semua terjadi begitu saja, tanpa tahu apa, siapa, mengapa, bagaimana, kapan dan dimana... Tidak jelas...

Senin, 20 Agustus 2012

Apaan sih... CinLok...!?!

Sempet baca tulisan teman yang judulnya Jangan Bawa Hati langsung inget baru aja saya pulang dari Kuliah Kerja Nyata (KKN) di negeri laskar pelangi Belitung Timur. Mahasiswa yang tau cerita KKN pasti mau gak mau akan tau ada 1 cerita khas KKN yaitu CinLok. Nah tulisan itu agaknya cocok dengan cerita KKN manapun termasuk tim saya. Makanya di tulisan ini saya ingin memperkaya perspektif pemikiran dari seorang ikhwan (penulis itu akhwat), sekaligus berbagi hikmah dari pengalaman di tim saya yang cukup heterogen ini.

Udah pada tau lah kalo kita ada di kegiatan, intensitas interaksi antar kita yang ada disitu sebanding sama lama waktunya. Nah Ini terjadi juga di tim KKN saya selama lebih kurang 5 minggu ini. Antar cowo maupun cewe, atau antar keduanya. Antar kita sendiri atau dengan masyarakat desa. 

Interaksi ini ditambah juga kondisi 'hidup bersama' maka ada something dalam hati yang akhirnya terfasilitasi untuk tumbuh. Tapi apa-iya kita bisa mengendalikan yang tumbuh itu dan ke arah mana itu tumbuh? Gak mungkin kan? So gak perlu saya jelasin gimana interaksi itu akhirnya berujung CinLok, dan lagi gak pada tempatnya saya sok ngajari mengelola hati. Cuma ada beberapa yang mau saya bagi dari pengalaman, hanya untuk sekedar 'gimana sih sikap kita kalo kondisinya gitu'?

Satu, Kontrol Interaksi, bahasa mudahnya Seperlunya. Seperlunya aja ketemu, seperlunya aja bantuin, seperlunya kalo ngobrol ama becanda, seperlunya kalo makan, seperlunya kalo tidur #lho :P... Buat kami yang lokasi pondokan cowo & cewe kepisah dan lumayan jauh, masalah ketemu gampang diatasi. Ya kalo ga penting ga usah sering2 cowo ke tempat cewe, sebaliknya juga sama, terus ga usah sampe malem banget kalo ketemuan. Ngebantu juga terkontrol aja. Jangan kita lebih ga-enak atau sampe ga-bisa kalo si someone itu ga kita tolongin, bisa2 malah keliatan kita kaya lagi dimanfaatin buat disuruh-suruh. Ngobrol ama becanda juga biasa aja ga perlu berlebihan apalagi sampe yang aneh aneh, lempar sendok, gebuk2an pake kayu... ya yang wajar aja lah.

Dua, Jaga Jarak. Ini maksudnya rada mirip kalo kita berkendara terus musti ada jarak aman antar kendaraan. Intinya menghindari ada kontak fisik yang gak perlu misalnya tonjok2an (ekstrim +___+a). Kalo pergi jauh naik mobil ya diatur tempat duduknya tapi tetep terjaga nyaman, kalo ada acara ya diatur supaya ga terlalu 'nyampur'. Selain itu juga bisa menjaga pandangan dari... hal... yang gak perlu. Cuma ya ga perlu jauh2 kalo mau ngobrol. Malah ntar jadinya saling teriak2 dan dikira ada gangguan kejiwaan kalo sampe begitu.

Bibit2 CinLok biasanya tumbuh akibat interaksi dan sewaktu tumbuh semakin memaksa untuk berinteraksi lebih sering dan lebih lama. Jadi salah satu solusi jitu adalah dengan mengelola sikap. Terkhusus pesan2 diatas ini untuk kita kaum lelaki yang lebih mudah untuk mengendalikan Sikap dan Perilaku yang tampak, tapi sebenarnya sih juga berlaku untuk perempuan. Menurut saya untuk hal2 begini cowo biasanya bisa lebih tega, kalo cewe biasanya masih sekedar karena malu.

Mengelola hati emang susah, hanya dengan pertolongan Allah yang jiwa ini ada dalam genggamannya kita bisa melakukannya. Hanya DIA yang berkuasa untuk membolak - balik hati. Namun dengan beberapa sikap yang kita lakukan, setidaknya bisa membantu mengontrol diri supaya gak terikut 'kemauan' yang belum pasti ada kebaikan bagi kita.

Sabtu, 09 Juni 2012

Feedback

Untuk kesekian kalinya, tulisan ini dibuat hanya karena ada sedikit hal yang tiba tiba terfikirkan...


Setiap kita melakukan sesuatu, tak jarang kita ingin tahu seperti apa tanggapan orang lain atas apa yang kita kerjakan. Bahkan dari apa yang kita katakan/tulis sekalipun, dan hanya sedikit orang yang sama sekali tidak pernah terbersit dalam dirinya keinginan tersebut.

Feedback...atau dalam bahasa Indonesia disebut 'umpan balik'. Merupakan suatu respon akibat perkataan/perbuatan/perlakuan/tindakan yang dilakukan oleh seseorang pada sesuatu/orang lain.

Saya sempat berfikir seberapa banyak atau seberapa sering seseorang ketika ia sedang/sudah melakukan sesuatu, terlintas dalam pikirannya "bagaimana tanggapan orang lain atas apa yang saya perbuat?". Masalahnya, sering kali saya melihat hal seperti ini yang akhirnya menimbulkan keraguan/kehilangan keyakinan dari orang tersebut atas apa yang ia kerjakan. Atau malah yang lebih parah ketika ia terlalu memikirkan hal itu sebelum melakukannya akhirnya ia tidak jadi untuk melakukan hal tersebut.

Contoh saja ketika kita sedang asyik mengobrol dengan teman kita, lalu terlintas...apakah tepat saya berbicara begini?, bersikap begitu? dan lain sebagainya. Hal hal semacam ini yang menurut saya menimbulkan ke-canggung-an ketika kita berkomunikasi dengan orang lain.

Mungkin memang tidak serumit yang saya bayangkan...(terkadang saya terlalu merumitkan hal yang mungkin biasa saja)... yah, beberapa orang beranggapan, "ah apapun tanggapan orang memang beginilah saya", atau "biarlah, toh sudah berlalu", dan semacamnya, namun apakah iya kita selalu mengacuhkan/mengesampingkan apa tanggapan orang atas apa yang kita perbuat?

Ada 2 hal yang menurut saya membuat feedback ini penting menurut saya...
1. Kita jadi TAHU-APA yang orang lain rasakan atas apa yang kita perbuat. Sebatas tahu... hanya itu.
2. Kita mampu MENGOREKSI diri atas tanggapan orang lain terhadap perbuatan kita. Sebagai sarana perbaikan.

Pun saya rasa tidak selamanya kita harus selalu mengambil no. 2, karena memang dikembalikan pada diri masing-masing baginya feedback itu untuk apa, serta belum tentu selalu koreksi/perbaikan atas tanggapan itu akan berdampak lebih baik...



*dalam kebingungan dan keresahan akan perbuatan yang selama ini telah dilakukan*

Minggu, 27 Mei 2012

Paradoks

pa·ra·doks n pernyataan yg seolah-olah bertentangan (berlawanan) dng pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran; bersifat paradoks.
Adakah kita pernah memikirkan setiap informasi yang kita terima?
Adakah kita pernah terbingung oleh perkataan orang lain?
Adakah kita pernah terlempar-lempar oleh argumentasi?


Tidak bisa dipungkiri, kita sering terperangkap dalam situasi situasi yang memaksa kita untuk menelan mentah mentah apa yang diucapkan orang lain. Ada beberapa dari kita yang berusaha untuk mengatasinya, namun kondisi yang terlalu kuat atau memaksa melemahkan kita. Sebagian kecil dari kita mampu untuk tetap berfikir jernih ditengah tekanan situasi dan kondisi, sehingga mampu mengolah informasi tersebut. Sebagian besar lagi tidak mampu, kalah.


Dari pendapat saya, akar masalah ini mulai terbangun saat kita sekolah dimana 'terlalu' percaya pada guru, atau lebih tepatnya mau tidak mau harus membenarkan apa yang dikatakan guru. Bisa dibayangkan betapa kita saat itu masih tidak tahu banyak hal, belum memiliki kemampuan yang memadai untuk mengolah informasi, hanya dijejali dengan berbagai macam 'hal' yang dipaksakan untuk diyakini benar. Konsekuensi dari 'mengingkari' pernyataan 'benar' tersebut bisa dalam berbagai macam, mulai dari dimarahi, hingga 'penundaan' kenaikan tingkat. Terlalu besar resiko yang ditanggung dan terlalu memberatkan.


Hal semacam itu yang lambat laun membentuk kita menjadi manusia manusia yang hanya mau menerima, tidak mau ambil pusing dengan memikirkan benarkah itu, pantaskah itu, dan sebagainya. Ini yang membuat kita akhirnya terkalahkan oleh orang orang yang mampu memainkan kata dan kalimat, lihai dalam menyusun kata, dan akhirnya kita terjebak dalam pemikiran dangkal.


Banyak sekarang orang yang tergelincir ke pemahaman yang keliru, tidak seperti yang diharapkan sang 'pengucap', terombang ambing pemikiran dan argumennya hanya karena kurang mampu menganalisis informasi. Alhasil yang disalahkan malah sang pemberi informasi atau malah media pembawa informasi. Kekurangan kita dalam menganalisis malah dilimpahkan pada kekurangan orang dalam menyampaikan pernyataannya.


Lebih parah lagi menyalahkan orang atas analisis/hasil olahan informasi yang dia dapat, dan mencap orang tersebut sebagai "pencari-cari kesalahan" atau sebagainya. Padahal ketika dia mengatakannya dia tidak sadar bahwa sang pencari-cari kesalahan itu dirinya sendiri.


Dari sudut pandang lain, sebagian kecil orang ada yang justru merasa 'senang' dan bangga ketika mampu mengendalikan pemikiran orang lain dengan kalimat kalimat seperti itu. Entah apapun kepentingan yang mereka bawa, entah apa background yang mereka angkat, entah apa citra yang mereka dapat di publik, mereka tetap melakukannya.


Contoh kecil:
Haruskah kita mempercayai perkataan orang yang berkata "Jangan terlalu percaya dengan apa yang dikatakan orang lain"?


Sulit memang ketika kita mencoba untuk selalu mampu mengolah segala informasi yang kita dapat, namun jika tidak begitu apalah guna kita sebagai orang orang yang mendapatkan pendidikan? Apalah guna semua pengetahuan yang telah diberikan pada kita? Akan kita apakan kemampuan akal yang telah diberikan pada kita?


Nah lalu bagaimana sikap kita?

Last... sudahkah anda membaca dengan teliti dan tidak terjebak oleh apa yang saya tulis?
Menjebak... mungkin... 
Terjebak... sering...

Senin, 07 Mei 2012

Perjuangan Kembali ke Kota Perjuangan

"...hanya sepenggal cerita kisah sekumpulan pemuda Indonesia..."

Sore itu, Rabu... di Bumi Perkemahan Cibubur, setelah semua agenda FIM 12 berakhir.
Niatnya sih kita yang dari yogya mau langsung pulang sesuai rencana... rencananya itu begini:
1. Naik taksi (2 taksi untuk 8 orang) ke stasiun UI Depok.
2. Naik comutter ke stasiun tanah abang.
3. Naik kereta bengawan langsung menuju yogyakarta
4. Sampai di yogya pagi buta, dan melanjutkan aktivitas masing2.

Nah ternyata pas persis habis selesai itu hujan... mau ga mau harus menunggu agak mendingan supaya bisa keluar nyari taksi. Nah saat itulah ada usulan untuk bareng sama rombongan lain yang mau ke depok juga... akhirnya nunggu. Tapi jadinya lama banget, dan semakin geje akhirnya diputuskan tim yogya tetap berangkat sendiri. Persis jam setengah 6 rombongan angkat kaki dari buperta.

Dan seperti yang diduga... jakarta ramai... dan nyari kendaraan angkutan juga susah. Akhirnya setelah berusaha... dapetlah 1 taksi, yang diisi 3 orang (mb hilda, mb amri, & mita) + sayasebagai penanggungjawab #ciieeee.... dan setelah cukup lama berjalan 4 orang sisanya (hanif, sya'ban, ridwan, & reva) juga mendapat angkutan ke sana... Tujuan kami... Stasiun UI Depok.

Di tengah jalan, sempat terhenti karena mb amri ternyata gampang mabuk kendaraan... ya mau ga mau harus berhenti untuk menenangkan diri... lalu dilanjut kembali setelah agak mendingan. Sampailah kami di stasiun UI depok jam 7 malam. Harapannya sih bisa langsung naik comutter karena kereta bengawannya berangkat setengah 8 lewat 10 menit... tapi masih khawatir juga karena rombongan yang satunya belum dateng. Masa' iya kita duluan mereka ketinggalaan... dan akhirnya tak lama rombongan kembali bersatu...

Cukup lama memang nunggu comutternya... seharusnya kalo sesuai jadwal comutter itu jam 7an, tapi akhirnya entah jam berapa baru dateng. Sambil harap harap cemas, mudah2an bisa sampai pada waktunya.

Di comutter perjalanan ke stasiun tanah abang yang memakan waktu 30 menit jadi ga begitu kerasa, karena diajak ngobrol sama ibu2.. kakak adik yang kebetulan naik juga... cerita macem macem pokoknya... udah lupa kalo mau diceritain lagi. Akhirnya sampai juga di tanah abang... dan... TADAAA.... kami ketinggalan kereta.. :'(

Sempat berfikir gimana pulangnya, dengan segala opsi, kemungkinan, probabilitas, dan lain sebagainya.. akhirnya ridwan mengajukan usulan.. yang kurang lebih seperti ini:
"... Pokoknya aku masih mau pulang hari ini, aku naik comutter lagi ke senen, terus ke yogya naik progo... biarin ga ada tiket.. urusan nanti ketauan belakangan. Kalo ada yang mau ikut silahkan ini ga dipaksa, tapi kalo ada yang ikut itu tanggungjawabku..."


Setelah diskusi panjang lebar... akhirnya kami semua sepakat mengikuti ridwan, selain karena mb amri gampang mabuk kendaraan kecuali kereta, kita memang pengen tetep sama sama. Akhirnya diputuskan nunggu comutter terakhir ke stasiun senen. Dan seperti perkiraanku, comutternya juga telat.. bahkan sampai jam keberangkatan progo dari stasiun senen pun belum dateng... gagal sudah rencana kami pulang hari itu. Selamat tinggal semua agenda kami di hari kamis besok... terutama kuliah pagi dan siang saya, dan jadwal siaran mb hilda di radio...

Akhirnya kami memutuskan untuk menginap di stasiun tanah abang... seadanya... sesiapnya. Sebelumnya sudah dipersiapkan dengan matang gimana kepulangannya, yang kurang lebih seperti ini.
1. Berangkat dengan kereta KutoJaya tujuan kutoarjo...
2. Naik prameks dari kutoarjo ke yogya.

Yap, setelah sedikit menyelesaikan hal hal yang harus diselesaikan... beli makan, dan mempersiapkan 'tempat' di stasiun akhirnya kami mengisi malam dengan cerita2 dan tentunya tidak ketinggalan Werewolf... hahaha.... Sya'ban, Mita, & Reva meskipun baru tahu saat itu, sudah cukup lumayan waktu permainan ke sekian... lumayan lah meng-kader master2 werewolf lain.. haha...

Pagi hari... stasiun sudah penuh antrian untuk kereta yang sama.. untungnya ada yang udah ngantri jadi yang lain bisa menyelesaikan kewajiban pagi hari. Akhirnya alhamdulillah rencana yang satu ini dimudahkan jadi kita semua dapet tiket. Setelah selesai beres beres, kami langsung naik kereta, mengambil tempat dan... lanjut main werewolf selama perjalanan di kereta.

Seharian itu, apapun yang terjadi, mau ada penjual yang nawarin dagangan, pengamen, bahkan beberapa dari kita ada yang sempet beli, tapi dihitung2... nonstop 6 jam werewolf gak berhenti. Biarpun beberapa kali ada pergantian pemain karena ngantuk dan sebagainya, tapi baru bener2 KO semua siang harinya... dan akhirnya karena 'intensif' itu yang bikin semua jadi jago.. bahkan pemain baru yang dikenalin werewolf aja baru tadi malem....hahaha

Sesampainya di stasiun kutoarjo, ridwan gak bisa ikut bareng, soalnya dia mau pulang dulu ke rumah. Setelah menyelesaikan beberapa kewajiban (daritadi ngomongnya gini mulu :P), pamitan sama ridwan, kami melanjutkan perjalanan dengan prameks ke yogyakarta... kota kelahiran, kota perjuangan, dan sudah tentu waktu 1 jam itu tidak disia-siakan untuk meningkatkan skill werewolf.. hahaha..

Alhamdulillah... sampai juga di yogya sekitar jam 4... setelah itu kami semua pulang ke 'tempat tinggal' masing masing dengan caranya masing masing... biarpun saya harus menunggu lama karena jemputannya salah stasiun (sebagian besar kami turun di stasiun tugu supaya gampang angkutannya, deket trans yogya soalnya), akhirnya bisa dirumah juga waktu maghribnya.

=============================================
Kalo boleh dibilang, ini pengalaman satu diantara seribu, bagaimana kami akhirnya 'diarahkan' dan 'diuji' oleh Yang Maha Berkehendak untuk mengalami kejadian kejadian seperti ini. Terlepas dari itu saya juga mohon maaf kepada seluruh rombongan karena ketidakcermatan saya sehingga ada pihak pihak yang dirugikan dan merasa kurang nyaman atas kejadian ini dan selama perjuangan menuju kota perjuangan ini, saya memohon maaf yang sebesar besarnya...

-Sepotong episode perjuangan

Rabu, 18 April 2012

Riffle Shuffle



Shuffle card apa yang paing sering kita lihat? Mungkin jika kita sering bermain dengan teman kita, Hindu Shuffle yang paling sering kita lihat. Yaitu dengan mengambil sebagian kartu dari bagian bawah, kemudian menaikkannya ke tumpukan atas secara bertahap. Namun ternyata ada yang lebih menyenangkan dari cara itu, yaitu Riffle Shuffle.


Ini termasuk cara shuffle yang paling saya senangi. Bahkan ketika sedang tidak memainkan apapun dengan kartu, saya spontan saja mengambil tumpukan kartu dan melakukannya. Selain ada kesenangan tersendiri ketika melihat kartu kartu itu bergerak saling bertumpuk, dan menyatu kembali, ada hal lain yang ternyata saya sadari dari hanya sekedar melakukan hal biasa ini.

Selasa, 17 April 2012

Deep(est) Introduction

"Kebiasaan unik itu setiap orang pernah mengalaminya. Namun dengan cara yang berbeda"

Selasa, 10 April 2012

Being Nocturnal

Nocturnal... Biasa digunakan untuk hewan maupun tumbuhan, yang menggambarkan karakteristik unik dari makhluk hidup tersebut, di mana ia lebih aktif pada malam hari. Makhluk hidup dengan sifat seperti ini di Indonesia lebih sering disebut 'makhluk malam'. Saya pribadi lebih sering menggunakan nocturnal sebagai kata untuk menunjukkan kalau seseorang sedang atau sering begadang, apapun alasannya.

Selasa, 02 Agustus 2011

Inkonsistensi

Melihat perkembangan setelah 19 hari semenjak berumur 20 ada 1 hal yang nampak jelas dari diri ini yaitu... tentang konsistensi diri,

Perkembangan menunjukkan jika ada banyak hal yang diiginkan belum sejalan dengan apa yang dilakukan, salah satunya ya menulis. Memang pernah sampai suatu titik dimana sangat sulit mencurahkan lagi ide ide yang ada di pikiran, atau sekedar curhat curhat colongan. Lalu sempat mendapat sebuah nasehat bahwa: "bagaikan sebuah gelas, ia tidak akan bisa berbagi ke orang lain sebelum ia mengisi dirinya". Sejak saat itu mulailah perjalanan melahap segala informasi mulai dari hal yang penting sampai yang biasa saja. Namun akhirnya malah merasa sulit untuk menyerap itu semua, apalagi untuk meramu dan melahirkan sebuah tulisan darinya.

Inkonsistensi ini terdengar menyebalkan, apalagi ditengah kondisi seperti ini semakin menyebalkan saja jika ini tidak segara ditangani. Bahkan untuk hal seperti ini saja mudah ternodai oleh sikap semacam ini, apalagi yang lain yang lebih berat, misalnya kuliah, amanah, dan ya... fase kehidupan selanjutnya itu... Bagaimana mungkin bisa siap untuk menjalaninya sementara rencana saja masih kabur, kemantapan belum didapatkan, dan parahnya kebutuhan dan kewajiban pribadi saja belum bisa dikontrol.

Semoga ini tidak menjadi sebuah kata yang terbawa angin lalu, semoga bisa menjadi sebuah koreksi diri...
Ya Allah, tiada tempat bagiku untuk bergantung selain kepada-MU, tiada yang lebih mengetahui diriku selain ENGKAU, jadikanlah semua ini sebagai pelajaran bagiku, berikanlah aku kekuatan didalam setiap ujian-MU, berikanlah aku ketabahan dalam setiap cobaan-MU... Ya Allah yang MAHA PENGAMPUN lagi MAHA PENYAYANG, hanya kepada-MU-lah aku meminta dan memohon pertolongan... Amin...

Ditulis menjelang adzan subuh 2 Ramadhan 1432 H

Sabtu, 18 Juni 2011

Anyer-isme [YoJa-AnSe Part 2]

4 Juni
Kewajiban pagi mulai dari sholat hingga mandi memang tidak terlupakan, dan harus menjadi perhatian serius tarutama saat ini dimana tak bisa menyembunyikan wujud "pagi" yang menjadi ciri khas masing masing orang. Ok tujuan semuanya berkumpul dari kemarin adalah untuk hari ini, menuju tempat yang dijanjikan dengan seribu janji mampu memberikan kebahagiaan dan kesenangan [lebay] yaitu Anyer, Serang, Banten Keberangkatan ke anyer hari ini dibagi menjadi beberapa kloter. Kloter pertama bersama bunda, ada Ryan, Naimah, Nadia, Trio, Zakky, dan Saya. Di kloter kedua bareng mang udin + Pak elmir [kalo ga salah], selanjutnya bareng bang Mirza, dan yang terakhir tim Motor [Azis Dkk]. Jarak antar keberangkatan sekitar 2 jam an [kecuali yang motor entah kapan], dan perjalanan sempat terhalang oleh beberapa kecelakaan di tol. Untungnya kami bisa mengisi waktu dengan permainan yang sedikit "pembodohan". Sesampai disana kami sempatkan untuk foto foto dan mengisi waktu dengan bermain kartu. Sementara Ryan sedang diberi "wejangan" oleh pak Deddy, kami asik aja bermain kartu dan berhasil "meracuni" Emma #eeaaa.

Sampai siang barulah semua berkumpul, dan agenda akhirnya bisa dimulai. Kami diminta berfoto dahulu untuk kenang kenangan pak Deddy, karena setelahnya kami banyak diberikan sharing atas pengalaman pengalaman beliau. Dan lagi lagi sesi sharing ini benar benar menggugah hati dan pikiran untuk segera menyebarkannya dan berbuat sesuatu. Banyak hal yang memang dibahas disini dan meskipun tak semuanya mampu diserap, Insya Allah ada yang bisa diambil manfaatnya dan diaplikasikah secara nyata. Menjadikannya bahan bakar tambahan untuk menggerakan motor aktivitas hidup. [#eaa berwibawa...]

Setelah itu barulah bisa beres beres, naro barang, dan berhura hura lagi. Mulai dari nonton, main kartu, sampai kompetisi catur yang disalah artikan sebagai "mandira cup", berenang di kolam renang, hingga menantang ombak di pantai anyer. Terbukti skill saya di catur semakin terkikis di game pertama melawan bang mirza. Kemenangan 1-2 bang mirza diraih pada pertandingan kedua dan ketiga, dimana konsentrasi saya sudah menurun drastis karena sudah lama tidak main catur. Tapi untuk skill berenang, alhamdulillah masih terjaga. Baik di kolam renang yang tenang tetapi dalam, maupun di pantai yang berombak dan hampir membuat saya tenggelam, kemampuan renang saya masih berfungsi disana. Ah senangnya bisa bermain main dengan ombak dipantai soalnya terakhir kali bisa begini waktu masih di lampung, sebelum kuliah. Kalau di yogya jangan harap bisa seperti itu, kalau nekat bisa bisa bakal ditarik paksa oleh penjaga pantai [keluar] atau oleh si ombak itu sendiri [kedalam dan tenggelam].

Yap setelah puas bermain, saatnya membersihkan diri, mengistirahatkan diri sejenak, dan merapihkan diri, sebelum evaluasi panitia dimulai. Sedikit telat sih datengnya soalnya g maksa di jamak sholatnya, tapi toh ga telat telat juga. Evaluasinya singkat sih, soalnya ga ada mas Ivan selaku koordinator, dan akhirnya kita jadi bahas agenda hari anak nasional sembari diberikan wejangan lagi oleh tante Masnah. Agenda di puncak bakal diadain lagi, tapi kali ini ada inovasi yaitu di daerah daerah lain yang sanggup mengadakan dipersilahkan juga mengadakan supaya isu ini lebih masif. Ok tertarik untuk membawa pulang ke Yogya. Setelah itu kami [#FimDancer #eeaaa] latihan lagi untuk menyempurnakan perform esok hari.

Setelah dirasa cukup, istirahat kembali, ngobrol, ngobrol, dan akhirnya berlanjut ke permainan Werewolf. Indikasi kecanduan permainan telah nampak saat ini, dimana sebuah permainan mampu menyita waktu begitu lama. Tetapi dari semua permainan yang dilakukan, kali ini yang paling seru karena jumlah pemainnya banyak dan situasinya benar benar terbawa ke permainan. Bahkan beberapa orang sudah memiliki 'cap' masing masing. Asalkan cap tuduhan dan kecurigaan itu tidak terbawa sampai dunia nyata saja.. heheheheh. Permainan berakhir saat hari sudah berganti.

Kembali ke tempat istirahat, kami sempat kebingungan ingin 'merebahkan' diri dimana karena semua space telah diisi dan tidak bisa diganggu gugat. Akhirnya ada yang inisiatif tidur di kursi, dan lainnya bahkan sampai rencana tidur di mobil. Tapi kemudian yang terakhir itu tidak disarankan, dan makhluk2 yang tersisa akhirnya tidur beralaskan seprei di kamar yang masih 'lowong' lantainya. Memang tidak sampai rebut rebutan tempat, tapi rebut rebutan selimut... hahahah... Dan haripun berakhir...

Aku, Mereka, dan Dia [Part IV – 2009_Genap]

Disadari atau tidak, semenjak ini kami jadi sering bersama. Mulai dari sekedar makan malem yang tempatnya gak jauh jauh dari kampus dan pasti di situ situ juga. SS cabang Jakal, barat GSP UGM jadi tempat favorit buat makan malem yang waktunya pasti kisaran jam 7 – 9 malem. Biarpun masih kadang nyelip – nyelip orang lain, tapi yang jelas tim inti tetep dari kami ber 10, ya setidaknya 3 diantara kami lah. Memang untuk sampai selalu ber 10 jarang, semaksimal – maksimalnya yang bisa diusahakan sekitar 5 – 8 diantara kami. Tapi justru itu yang membuat kami jadi “ketagihan” buat jalan – jalan bareng, atau setidaknya makan bareng lagi dan lagi.
Saya juga lupa – lupa inget sudah berapa kali kami begitu, but ga terhenti di situ saja, terkadang juga ada follow-up dadakannya yaitu jalan muter – muter jogja, mengunjunggi beberapa tempat yang menjadi persinggahan orang – orang untuk sekedar melepas penat di siang hari. Beberapa tempat yang jadi favorit, Alun – Alun Kidul, Alun – Alun Utara [kalo lagi sekaten],  Malioboro,  dan… [hadoh, yang laen lupa]. Tapi yang jelas semua itu memberi kesan tersendiri  buat masing masing dari kami. Sampai akhirnya menjadi sebuah kenangan bagi kita semua sewaktu malam pergantian tahun [baca disini].
Bagi saya, pada masa ini adalah masa dimana hubungan kekeluargaan kami sedang mengalami developing atau bahasa mudahnya masuk di step awal. Memang antara kami belum terlalu banyak tahu tentang yang lain, entah mungkin ada yang sudah lebih banyak namun dari sisi saya belum terlalu tapi yang entah mengapa menjadi suatu kerinduan tersendiri bagi saya pada masa ini. Masa dimana kami saling menanamkan rasa percaya dan kepedulian lewat canda, tawa, cerita, pengalaman dan lainnya.

Kamis, 09 Juni 2011

Yogya-Jakarta-isme [YoJa-AnSe Part 1]

2 Juni
Rencana yang telah disusun dari jauh jauh hari akan dieksekusi dalam waktu dekat ini. Tiket sudah dibeli, barang barang sudah disiapkan, tinggal menyelesaikan sedikit urusan yang masih tertinggal dan menyapa kawan kawan yang akan ditinggalkan selama kurang lebih 3 hari ini. Huft... Perbanyak istirahat supaya g gampang lelah...

3 Juni
Alhamdulillah bangun pagi terasa lebih mudah, dan segala kewajiban pagi telah ditunaikan, berangkat menuju stasiun tugu diantar ayahanda tercinta, berpamitan dengan orang orang dirumah... tunggu aku pulang ya semuanya... #eeaaa. Perjalanan yang cukup panjang, namun sepadan dengan yang kudapat. Berkali kali mengucapkan syukur telah diperlihatkan pemandangan yang menggugah hati dan fikiran. Inilah kelebihan jika kita bepergian jauh pada waktu hari terang. Melihat berbagai karakter penumpang yang ada disini semakin membuatku merasa tak rugi dalam perjalanan ini. Sekalipun tak ada yang sempat ku ajak berbincang, tapi menurutku itu cukup berkesan. Beberapa kali teringat dengan seseorang yang ku kenal, namun langsung kutepis itu karena ku tau dia tak mungkin disini. Ah biarkan saja jika memang teringat, itu juga yang membuatku semangat dan tak sabar untuk segera sampai #eeaaa.

Ting tong... tibalah di stasiun jatinegara, sudah siap dijemput oleh bunda dan tio. Menyempatkan diri untuk sholat di mushola terdekat. Yap setelah berjumpa, ternyata ada mb naimah juga ikutan ngejemput, dan sebelum ke rumah bunda ngejemput lagi anak anak dari bandung [Trio + Ryan + Ratna]. Setelah sampai rumah bunda baru bener bener bisa istirahat. Huft... cukup melelahkan juga perjalanan, tapi semua itu langsung terobati begitu hari semakin malam dan semakin banyak yang berdatangan. Seperti biasa ketika anak anak muda sudah berkumpul, canda tawa selalu mewarnai perbincangan, mulai dari sekedar menanyakan kabar, sharing pengalaman, curcol curcol, sampai gangguin beberapa orang termasuk Tio [#eeaaa *pencitraan]. Tak lupa juga latihan untuk perform bedah buku di UPI Ahad besok, mulai dari penari hingga penyanyi semuanya larut dalam keceriaan malam itu. Tak habis disitu permainan kartu pun menjadi pilihan mengisi waktu sekaligus mengakrabkan satu sama lain, dan semakin menjadi jadi ketika Faizt mempromosikan "Warewolf" yang akhirnya menyebabkan ketagihan bagi semua pemainnya [Great job izt...!]. Akhirnya suasana rumah kembali tenang sesaat sebelum pergantian hari. Dan hari ini pun berakhir...

Sabtu, 21 Mei 2011

Migrasi Blog

Yep... Bagi kalian followers sejati blog saya, kali ini saya sudah me-migrasi-kan blog saya dari

http://gravekeepersassailant.blogspot.com
menjadi
http://portablepapper.blogspot.com

Tenang aja semua tulisannya tidak ada yang terhapus, hanya URL-nya yang berubah.
Ada yang bertanya kenapa dirubah? Jawabanya sederhana kok. Diantara dua nama itu, mana yang lebih mudah diingat, yang lebih ga ribet, yang lebih ga aneh? Yep, jawabannya jelas.
Kalau ada yang komentar: "...ah itukan cuma nama aja...", well bagi saya sebuah nama itu sangat berarti sekalipun itu di dunia maya. Karena dengan nama, seseorang mampu mengira-ngira apa yang ada didalamnya. Ya seperti itulah...

Kamis, 14 April 2011

Aku, Mereka, dan Dia [Part III – 2009_Gasal_Girl’s Part]

Jelas diantara The Six Ladies ini yang kukenal paling pertama dan paling dekat adalah kk ku sendiri. Well… tidak perlu berpanjang lebar karena bagiku sangat banyak yang bisa kuceritakan tentang dia, so let’s skip it. Cukup sulit bagiku untuk menjelaskan tentang diri mereka. Selain saat itu aku belum begitu mengenal masing masing, karakternya, maupun sifat aslinya, karena yang kutahu mereka selalu bersama, ya setidaknya jarang melihat mereka sendiri, minimal berdua, bertiga, dst… Ok, let’s start it.. [ngurut nama aja…]

Pertama kali ketemu Cinthya, hmm... ya g jauh beda dari kk ku lah, rada jutek + cuek. Sempet bingung juga buat spelling namanya [Cinthia, Cinthya, Chintya, Chyntia, dll, dst, dsb] soalnya waktu SD dan SMA pernah punya temen juga yang namanya sejenis [yang kalo dilafalkan = “sintia”]. Dan makin yakin aja kalo first impression orang dengan nama ini / sejenis adalah…“JUTEK”… Tapi kalo udah deket / kenal ya normal – normal aja kok.

Kalo Dhanik orangnya supel, mudah bergaul dengan siapapun, dimanapun, dan kapanpun [halah…]. Keliatan dari gimana kalo sama orang yang baru kenal biarpun kadang sok asoy. Dan lagi emang terlihat jelas tipe orang yang mudah “disuka” sama cowo [peace dhan… :D]. Terbukti dari beberapa orang orang yang kukenal ada *ehem…

Novi biarpun yang paling tua, tapi sikapnya udah keliatan kaya ibu – ibu [lho g nyambung…]. Gak heran kalo sama yang lain sering “dituakan”. Tapi memang bukan karena usia sih, dari sikapnya memang sudah menunjukkan kalo wisdom-nya sebanding dengan usianya. Dan diantara yang lain, paling cerewet kalo udah sama bai.

Ulfa biarpun pertama jarang ngobrol, akhirnya kenal juga karena sering terikut dengan yang laen. Banyak juga yang nyangka orang jawa, padahal mah asli padang. Jadi yang paling sering digangguin sama yang laen terutama wangi karena cenderung lebih diem dibanding yang laen. Jarang ngobrol juga sama dia paling juga kalo ngobrol g lama, kecuali kalo udah sama yang laen. Jadinya belum terlalu ngerti.

Wangi pertama kali tau sih udah dari LMT dulu karena sekelompok, tapi g begitu. Pas diculik sama iwan ikutan makrab PSDM baru tau siapa wangi. Kaget juga sih ternyata sama sama punya berat dan tinggi yang tidak proporsional [maklum, 1 perguruan sama C-Kink]. But ada 1 yang berbeda [selain gw cowo dia cw…], yaitu gigi depan yang kaya kelinci. Gak segen segen kalo udah yang namanya gangguin dan ngecengin orang. Tipe tipe orang jahil.

*nb: karena g diselesaikan dalam 1 waktu, tata bahasanya jadi g jelas. [susa tauk mengembalikan memori ke 2 tahun lalu dalam 1 hari…]

Jumat, 18 Maret 2011

Aku, Mereka, dan Dia [Part II – 2009_Gasal_Boy’s Part]

Pari yang pertama ku kenal. Dengan gaya khas anak muda kelahiran Jakarta, aku tak merasa aneh dengan tingkah lakunya karena teman teman SMA ku juga tidak sedikit yang seperti dia. Maklum, Lampung dan Jakarta tidak jauh jaraknya. R. Parikesit Abdi Negara nama lengkapnya. R itu didapatkan dari keraton banten [insya allah benar, kalo salah benerin ya par…], sedangkan kalau aku mendapatkannya dari keraton Ngayogyakartahadinigtat, kebetulan yang tidak biasa menurutku, 2 orang dengan “gelar” yang sama, bisa kenal dekat, walaupun backgroundnya berbeda. Ya… dengan kegilaan yang sering ditunjukkan di luar, namun memiliki idealisme yang kuat didalam, merupakan pribadi yang kuat, teguh dan tidak mudah digoyahkan menurutku.

Kemudian aku kenal Anton dari kepanitiaan yang kami ikuti. Memang karena aku tidak terlalu aktif jadi kami jarang bertemu awalnya, tapi ketika pembubaran panitia kami berdua yang dipercaya mengurusinya. Jadilah aku makin kenal dengan sosok seorang Anton Wisnutoro [Bukannya Anton Wisnubroto ataupun Indra Wisnutoro lho…], lelaki asal Bekasi ini salah satu orang yang unik menurutku. Ada saja kelucuan kelucuan yang terkadang membuat kami tertawa, bahkan sampai sampai kebablasan dan “mem-bully-nya”. Namun dibalik itu semua kemampuan intrapersonalnya diatas rata rata, mudah bergaul dengan orang lain dengan gaya sok kenalnya, dan yang mungkin sulit terlihat darinya adalah, kepercayaan dirinya yang tinggi.

Next, aku mulai mengenal dengan mereka mereka yang wanita. Biarpun awalnya hanya sekedar kenal nama, namun akhirnya bisa juga dekat dengan mereka. Itu tak lepas dari kk ku yang membuat aku merasa nyaman dengan mereka.Ya, aku mengenal mereka dari kk ku yang sering bersama mereka. Entah kapan The Six Ladies ini bisa sedekat itu, bahkan kadang aku menganggap mereka itu “Satu Paket”, karena sering sekali kemana-mana selalu ber 6, dan kalau ada salah satu atau salah dua yang diajak entah kemana pasti yang lainnya juga ikutan.

Lanjut, Bai dulu memang jarang melihatnya karena dia lebih menyibukan diri di jurusan, namun kepanitiaan ospek fakultas yang membuatku dekat dengan dia, karena kami sama sama berada di seksi kepemanduan. Ahmad Baihaqqi, asli Balikpapan, orangnya cenderung cuek sama apa yang dia tidak kenal & tidak mau tahu. Awalnya sikap ini yang membuatku agak canggung dengannya, tapi karena sering sekali ketemu dan ngobrol apalagi kalau udah ngomongin tugas kepemanduan, makin lama jadi makin tahu siapa bai itu. Rada stress juga orangnya, tapi yang aku salut dengannya adalah keinginan kuatnya untuk back home ke Balikpapan selepas kuliah ini. Mendedikasikan dirinya di kota tanah kelahirannya.


Selasa, 15 Maret 2011

Aku, Mereka, dan Dia (Part I - 2008)

Tak banyak yang kuingat saat ini. Semuanya berawal dari 5 orang yang aku juga tak tau bagaimana mereka bisa sedekat itu. Biarpun terkesan eksklusif, tapi mereka tidak menutup diri dari yang lain. Aku tahu mereka, aku kenal mereka, namun rasa enggan masih sering muncul ketika berada di dekat mereka. Biarlah mereka dengan urusan mereka, aku dengan urusanku. Saat ini aku masih mencari tempat singgahku, dikala yang lain sudah menemukannya seperti mereka.

Dengan kemampuan Interpersonal yang minim karena masa laluku, butuh waktu yang tidak sedikit untuk bisa mendapatkan seorang teman dekat. Biasanya aku bisa lebih dekat dengan seseorang karena HOBI kami yang sama. Semua teman teman dekatku dulu, dari masa ke masa [SD, SMP, SMA] pun begitu. Begitu banyak kesamaan hobi, pemikiran, dan sikap yang membuat kami bisa sedekat itu. Namun sekarang, begitu banyak orang orang yang karakternya sulit ku kenali, enggan ku dekati. Mungkin diriku masih malu untuk mengobrol dengan mereka, ataupun sekedar menyapanya. Disini aku masih sendiri.