Rabu, 05 Desember 2012

Korban?

Ide jail tiba tiba muncul saat perjalanan dari fakultas ke gelanggang UGM, persis pas lewat depan RSUP dr. Sardjito. Ini tentang seorang pemimpin.

"Pemimpin itu terkorban, sementara dipimpin itu berkorban"
Well... maksudnya apa? Sempat beberapa menit asyik dengan imajinasi sendiri, bermain main dengan sel - sel kelabu yang dianugerahkanNYA. Apa bedanya ter- dan ber-...? apa maksudnya pemimpin itu selalu dapet ga enaknya? atau selalu 'sial'?... haha.. bukan kok :)

Dari pendapat pribadi maksud dari terkorban itu pasti... harus, wajib, kudu.... Jadi pemimpin itu mau gak mau, dan pasti karena itu wajib... dia akan berkorban atas apa yang ia pimpin. Contoh kecil aja, pemimpin itu pasti dan harus memikirkan seluruh hal yang dia pimpin toh? ya namanya aja pemimpin... harus tau segalanya (kaya'nya berlebihan) tentang apa yang dia pimpin. Karenaaaa...... yak, saya yakin sudah tahu jawabannya... karena Pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin... So kalau ada sedikit saja hal yang "kurang benar" terjadi, maka sang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban oleh 'Pihak Yang Berwenang'.

Nah, maksud dari dipimpin itu berkorban... yaa.... dipimpin itu juga pasti ada pengorbanan. Yakin kan setiap hal yang dilakukan itu pasti ada pengorbanan yang dilakukan? nah begitupun ini, sekalipun bukan pada posisi yang memimpin, tetap ada hal yang dikorbankan dari si terpimpin ini. Bedanya... nah akhirnya ketemu kan bedanya apa?... bedanya untuk hal ini dia tidak mengikat. Kalau pemimpin itu pasti... wajib, fardhu 'ain... kalau dipimpin itu tidak mengikat... (fardhu kifayah atau sunnah muakkadah ya? :P ). Beban pengorbanan itu ada tapi tidak harus dipikul, dia tidak hilang tapi tidak terikat... ya begitulah

Agak aneh memang kenapa tiba tiba mikir beginian... toh juga jadinya gak jelas kan apa yang dipikirin? (setelah baca ulang 2 alenia diatas) tapi ya setidaknya cukup senang karena bisa bermain main lagi dengan sel - sel kelabu serta mengupayakan cahaya dalam diri... yang akhirnya jadi bisa bikin tulisan :D

Senin, 22 Oktober 2012

Singularitas

Sekali waktu, sikap dan kebiasaan diri berubah. Seperti tidak menjadi diri sendiri...
Dan itu terjadi...

Sekali waktu, beberapa hal berjalan tidak seperti yang direncanakan dan dibayangkan...
Dan itu terjadi...


Sekali waktu, orang disekitarmu tiba tiba berbeda. Entah apa itu namun berbeda ...
Dan itu terjadi...
Seperti tertarik oleh kekuatan yang tidak bisa dilawan. Terjebak dalam suatu kondisi yang sulit dipahami. Semua terjadi begitu saja, tanpa tahu apa, siapa, mengapa, bagaimana, kapan dan dimana... Tidak jelas...

Kamis, 23 Agustus 2012

Belajar dari Seorang Takmir Masjid

Ketika melewati masjid itu hanya terlihat ramai lampu meneranginya, selebihnya hening sepi yang menyapa. Disebelah selatannya terdapat kebun yang sangat lebat dan diketahui belakangan kalau banyak sekali monyet yang berada disana. Disisi utara beberapa rumah berjejer menemani dengan aktifitas pemiliknya pada pagi dan sore hari. Masjid Nurul Jannah namanya. Masjid 'utama' di desa Burong Mandi, kecamatan Damar, kabupaten Belitung Timur, provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Suasana hening itu pecah manakala bedug ditabuh, adzan dikumandangkan, dan sholat ditunaikan. Jika menengok ke dalam masjid, akan didapati sang pemecah kesunyian sedang duduk berdzikir kepada Tuhannya. Selepas itu beliau menyempatkan diri untuk sekedar menjaga kebersihan dan kerapihan masjid, setelah itu beliau kembali pulang ke rumah yang tak jauh dari situ.

Pak Ridwan, begitu kami memanggilnya. Salah satu pengurus masjid yang paling sering kami temui selama kami KKN di desa itu. Belakangan juga diketahui beliau merupakan muazin masjid ini, dan satu satunya warga desa yang selalu di masjid tiap waktu sholat wajib. Hanya di waktu sholat jum'at, dan Isya di bulan Ramadhan saja kami temui masjid ini didatangi ramai oleh warga lain. Selebihnya hanya beberapa kali kami menemui mereka dan juga pendatang yang sempat mampir ada di masjid, namun yang paling sering kami temui dan menjadi imam sholat kami adalah pak Ridwan ini.

Sejauh pengetahuan saya pak Ridwan tidak berbeda seperti warga rata rata di desa ini. Beliau punya kebun dan sehari hari beraktifitas disana. Dilain sisi beliau adalah ayah dari bang Cori, guru di SDN 4 Damar, ketua karang taruna dan ketua sanggar tari desa yang tiap siang menjelang sore selalu ada aktifitas latihan tari bagi anak anak di desa.

Dengan kondisi yang tidak jauh berbeda dengan warga lainnya, lantas apa yang membuat beliau menjadi orang paling konsisten untuk mengumandangkan adzan, menjadi imam, dan bahkan beberapa kali kami menemui beliau sholat SENDIRIAN?

Tak pantas kami berprasangka apapun terhadap warga yang tidak pernah hadir menemani pak Ridwan. Tak pantas pula kami menyalahkan siapapun dari kondisi masjid yang sepi jama'ah ini. Kami hanya pendatang, kami hanya anak ingusan yang baru sedikit sekali tahu tentang desa dan masyarakatnya. Semampu kami, kami mencoba untuk ikut menghidupkan masjid ini dengan minimal 5 sholat wajib kami lakukan disini. Sebisa kami, kami mencoba untuk membersamai beberapa aktifitas di masjid dan tetap menjaga agar tidak malah menyusahkan.

Kami hanya sanggup menampilkan rasa kagum pada beliau. Teriknya siang maupun gelapnya malam tak membuat beliau urung untuk datang ke masjid. Bagaimanapun kondisi hari itu, sejauh pendengaran kami suara adzan selalu bisa kami dengar 5 kali sehari. Kondisi masjid juga terjaga kebersihannya tiap kali kami melihatnya. Serta di tiap jumat, sejak subuh karpet sudah tergelar rapih dan siap menyambut jamaah sholat jumat.


Ya Allah... disaat kami bermalas malas di atas kasur tiap subuh, beliau sudah melangkahkan kakinya ke rumah-Mu dan berseru "ash shalatu khairum minannaum"...
Ya Allah... disaat kami masih berani menunda bahkan mengakhirkan waktu, beliau selalu bertakbir pada-Mu di awal waktu...
Ya Allah... disaat kami bisa mendapati jamaah dalam tiap rukuk, beliau rindu akan hadirnya makmum dibelakangnya tiap hari...

Ya Rabb Yang Maha Penyayang... Tabahkan dan Tegarkan hati beliau agar mampu menjaga konsistensi dalam mengemban amanah di rumah-Mu.
Ya Rabb Yang Maha Perkasa... Kuatkan gerak langkah beliau agar mampu selalu menjaga & memakmurkan rumah-Mu.
Ya Rabb Yang Maha Pemurah...  Lancarkan lisan beliau agar tetap mampu mengumandangkan panggilan-Mu dan mengajak untuk bersama memakmurkan rumah-Mu.
Aamiin...

Senin, 20 Agustus 2012

Apaan sih... CinLok...!?!

Sempet baca tulisan teman yang judulnya Jangan Bawa Hati langsung inget baru aja saya pulang dari Kuliah Kerja Nyata (KKN) di negeri laskar pelangi Belitung Timur. Mahasiswa yang tau cerita KKN pasti mau gak mau akan tau ada 1 cerita khas KKN yaitu CinLok. Nah tulisan itu agaknya cocok dengan cerita KKN manapun termasuk tim saya. Makanya di tulisan ini saya ingin memperkaya perspektif pemikiran dari seorang ikhwan (penulis itu akhwat), sekaligus berbagi hikmah dari pengalaman di tim saya yang cukup heterogen ini.

Udah pada tau lah kalo kita ada di kegiatan, intensitas interaksi antar kita yang ada disitu sebanding sama lama waktunya. Nah Ini terjadi juga di tim KKN saya selama lebih kurang 5 minggu ini. Antar cowo maupun cewe, atau antar keduanya. Antar kita sendiri atau dengan masyarakat desa. 

Interaksi ini ditambah juga kondisi 'hidup bersama' maka ada something dalam hati yang akhirnya terfasilitasi untuk tumbuh. Tapi apa-iya kita bisa mengendalikan yang tumbuh itu dan ke arah mana itu tumbuh? Gak mungkin kan? So gak perlu saya jelasin gimana interaksi itu akhirnya berujung CinLok, dan lagi gak pada tempatnya saya sok ngajari mengelola hati. Cuma ada beberapa yang mau saya bagi dari pengalaman, hanya untuk sekedar 'gimana sih sikap kita kalo kondisinya gitu'?

Satu, Kontrol Interaksi, bahasa mudahnya Seperlunya. Seperlunya aja ketemu, seperlunya aja bantuin, seperlunya kalo ngobrol ama becanda, seperlunya kalo makan, seperlunya kalo tidur #lho :P... Buat kami yang lokasi pondokan cowo & cewe kepisah dan lumayan jauh, masalah ketemu gampang diatasi. Ya kalo ga penting ga usah sering2 cowo ke tempat cewe, sebaliknya juga sama, terus ga usah sampe malem banget kalo ketemuan. Ngebantu juga terkontrol aja. Jangan kita lebih ga-enak atau sampe ga-bisa kalo si someone itu ga kita tolongin, bisa2 malah keliatan kita kaya lagi dimanfaatin buat disuruh-suruh. Ngobrol ama becanda juga biasa aja ga perlu berlebihan apalagi sampe yang aneh aneh, lempar sendok, gebuk2an pake kayu... ya yang wajar aja lah.

Dua, Jaga Jarak. Ini maksudnya rada mirip kalo kita berkendara terus musti ada jarak aman antar kendaraan. Intinya menghindari ada kontak fisik yang gak perlu misalnya tonjok2an (ekstrim +___+a). Kalo pergi jauh naik mobil ya diatur tempat duduknya tapi tetep terjaga nyaman, kalo ada acara ya diatur supaya ga terlalu 'nyampur'. Selain itu juga bisa menjaga pandangan dari... hal... yang gak perlu. Cuma ya ga perlu jauh2 kalo mau ngobrol. Malah ntar jadinya saling teriak2 dan dikira ada gangguan kejiwaan kalo sampe begitu.

Bibit2 CinLok biasanya tumbuh akibat interaksi dan sewaktu tumbuh semakin memaksa untuk berinteraksi lebih sering dan lebih lama. Jadi salah satu solusi jitu adalah dengan mengelola sikap. Terkhusus pesan2 diatas ini untuk kita kaum lelaki yang lebih mudah untuk mengendalikan Sikap dan Perilaku yang tampak, tapi sebenarnya sih juga berlaku untuk perempuan. Menurut saya untuk hal2 begini cowo biasanya bisa lebih tega, kalo cewe biasanya masih sekedar karena malu.

Mengelola hati emang susah, hanya dengan pertolongan Allah yang jiwa ini ada dalam genggamannya kita bisa melakukannya. Hanya DIA yang berkuasa untuk membolak - balik hati. Namun dengan beberapa sikap yang kita lakukan, setidaknya bisa membantu mengontrol diri supaya gak terikut 'kemauan' yang belum pasti ada kebaikan bagi kita.

Selasa, 26 Juni 2012

Kehilangan... (part 1)

"Ya, contohnya gini... Saya adalah seorang pengusaha ikan lele yang paling sukses di kecamatan ini dan mampu mempekerjakan 50 orang karyawan dalam 10 tahun kedepan. Nah coba sekarang gantian, kamu yang tulis."
Namun, tangan itu hanya sanggup menulis hingga... Saya adalah seorang... Kemudian tak terlihat lagi gerakan pena biru diatas kertas putih itu.
"Ayo... ditulis aja gak usah takut. Tulis aja, saya ini siapa... jadi apa, terus bisa apa... gitu kan gampang toh?
Masih dalam posisi yang sama terdiam, kemudian pena itu diletakkannya. Dengan takut-takut ia menjawab.
"Anu... itu, saya gak tau gimana kalo harus nulis detil gitu. Saya takut... takut gak bisa jadi orang kaya yang ditulis. Lha wong saya ini gak kaya temen-temen yang lain. Ada yang udah berkali kali nampil di seminar nasional lah, ngisi mentoring tiap akhir pekan di tempat yang beda beda lah, ke luar negri ikut acara ini itu ato sekedar kuliah singkat lah. Nah saya? kegiatan di kampus juga cuma itu itu aja. Ikut organisasi satu dua doang. Kuliah? ya... mas tau sendiri lah kampus kita kaya' apa. Dan bisa bayangin orang yang ogah ogahan kaya' saya itu gimana kuliahnya.
Kembali keduanya terdiam. Suasana di kantin kampus itu memang sedikit ramai karena belum waktunya makan siang. Selain itu mahasiswa di kampus ini lebih suka datang ke kantin ketika baru saja buka, karena makanannya masih banyak yang tersedia selain itu kondisi kantin agak bersih dibanding nanti jika sudah waktu makan siang.

Guntur adalah mahasiswa teknik perminyakan, sedangkan Ilham adalah mahasiswa teknik material. Meskipun berbeda jurusan dan Ilham lebih senior angkatannya dibanding Guntur, namun karena mereka pernah berada pada organisasi yang sama di kampus tersebut, akhirnya mereka bisa kenal dekat.
"Nah itulah kelemahanmu tur... Kamu tu orangnya takutan. Takut kalo nanti begini, takut kalo begitu. Ini belum siap, itu belum bisa... Ya saya ngerti ke-perfeksionis-an mu, tapi jangan sampe malah buat kamu takut ngambil langkah. Gak masalah kan, ini cuma rencana gitu. Kalo emang berubah berarti Allah berkehendak berubah."
 "Ya tapi kan mas... kalo masih mahasiswa aja kaya gini emang 10 tahun lagi bisa jadi kaya gitu?"
 "Justru itu kan, kalo dari mahasiswa aja kita gak nentuin kita mau jadi apa kedepannya malah kamu semakin kebingungan. Udah kerja disini, gak betah... pindah ke yang lain, gak enak... pindah lagi. Atau malah yang parah, udah keterima kerja disitu terus suka ga suka ya.. jalanin aja. Yang penting saya kerja. Padahal saya yakin kamu orangnya bisa lebih dari sekedar begitu. Kamu punya visi. Cuma masih susah buat bikin breakdownnya aja kan?"
"I.. iya mas... semacem gitu. Sebenernya kepikiran sih mau gimana gimana. Tapi begitu disuruh buat lebih detil. Kok ya ngeliatnya jauh banget dan gak relevan gitu."
"Ya... Ya... Gini aja deh... kapan kapan dilanjutin lagi aja. Habis dzuhur saya ada perlu soalnya. Oh ya, satu lagi tur. Kamu kalo ada pikiran apa gitu ceritain aja, gak usah takut, gak usah malu. Mungkin ada beberapa hal yang bisa saya bantu kalo kamu cerita."
"Iya mas... dicoba dipikirin dulu deh..."
Tepat saat itu adzan dzuhur berkumandang dari mushola di dekat tempat mereka. Setelah menghabiskan makanan dan minuman yang dipesan, mereka berdua berjalan ke mushola tersebut...

(bersambung)

Senin, 18 Juni 2012

Rehat untuk Berkarya

Saya yakin tiap dari kita memahami pentingnya 'berhenti sejenak'...


          Hanya tinggal hitungan minggu, saya dan beberapa 'rekan kerja'-se UGM akan beraktivitas lain dari biasanya. Ke-indah-an lingkungan kampus, ke-ramai-an aktivitas mahasiswa, dan ke-ramah-an civitas akademika UGM harus kami relakan selama 5 minggu lamanya. Menyebar ke beberapa daerah, yang sebagian besar dari kami tidak-biasa berada disana. Menuju ke lingkungan masyarakat yang berbeda dari yang biasanya dirasakan. Keluar dari ruang idealisme mahasiswa, menuju ke hamparan realitas masyarakat. Mengabdikan diri pada masyarakat sesuai dengan poin ketiga tri dharma perguruan tinggi... kami menyebutnya... Kuliah Kerja Nyata.


          Tidak sedikit dari kami yang merasa 'belum siap', atau ragu apakah sudah siap untuk mengabdikan ilmu yang telah lebih kurang 3 tahun kami pelajari dan kami alami untuk kemudian memberikan kemanfaatan bagi masyarakat yang kami datangi. Sudah menjadi manusia yang seperti apakah kami hingga layak untuk mengabdikan diri pada masyarakat?


          Sebagian kecil dari kami tetap optimis bahwa apa yang sudah kami rencanakan disana akan 'berbekas' pada masyarakat. Bahwa pengabdian kami pada masyarakat memang seperti apa yang masyarakat butuhkan. Bahwa kami yakin kami akan menjadi rangkaian batu bata dari bangunan perubahan luar biasa yang terjadi pada masyarakat.


          Namun dari keduanya, kami tetap yakin bahwa kami butuh waktu sejenak. Waktu untuk memantapkan diri. Waktu untuk mempersiapkan segala kebutuhan. Waktu untuk... istirahat sejenak.


          Kami merasa tidak akan mudah untuk melalui 5 minggu itu dengan sebuah pengabdian yang nyata, namun kami juga tidak berputus asa karena kami yakin kehadiran kami akan berkesan positif bagi masyarakat, sekecil apapun itu. Oleh karenanya kami butuh waktu untuk mempersiapkan itu semua, mulai dari niat dalam hati hingga sikap dalam diri.
Karena kami sangat mengingini... pembenahan diri dan hati... agar mampu mengabdikan diri... dengan totalitas tertinggi...

Sabtu, 09 Juni 2012

Feedback

Untuk kesekian kalinya, tulisan ini dibuat hanya karena ada sedikit hal yang tiba tiba terfikirkan...


Setiap kita melakukan sesuatu, tak jarang kita ingin tahu seperti apa tanggapan orang lain atas apa yang kita kerjakan. Bahkan dari apa yang kita katakan/tulis sekalipun, dan hanya sedikit orang yang sama sekali tidak pernah terbersit dalam dirinya keinginan tersebut.

Feedback...atau dalam bahasa Indonesia disebut 'umpan balik'. Merupakan suatu respon akibat perkataan/perbuatan/perlakuan/tindakan yang dilakukan oleh seseorang pada sesuatu/orang lain.

Saya sempat berfikir seberapa banyak atau seberapa sering seseorang ketika ia sedang/sudah melakukan sesuatu, terlintas dalam pikirannya "bagaimana tanggapan orang lain atas apa yang saya perbuat?". Masalahnya, sering kali saya melihat hal seperti ini yang akhirnya menimbulkan keraguan/kehilangan keyakinan dari orang tersebut atas apa yang ia kerjakan. Atau malah yang lebih parah ketika ia terlalu memikirkan hal itu sebelum melakukannya akhirnya ia tidak jadi untuk melakukan hal tersebut.

Contoh saja ketika kita sedang asyik mengobrol dengan teman kita, lalu terlintas...apakah tepat saya berbicara begini?, bersikap begitu? dan lain sebagainya. Hal hal semacam ini yang menurut saya menimbulkan ke-canggung-an ketika kita berkomunikasi dengan orang lain.

Mungkin memang tidak serumit yang saya bayangkan...(terkadang saya terlalu merumitkan hal yang mungkin biasa saja)... yah, beberapa orang beranggapan, "ah apapun tanggapan orang memang beginilah saya", atau "biarlah, toh sudah berlalu", dan semacamnya, namun apakah iya kita selalu mengacuhkan/mengesampingkan apa tanggapan orang atas apa yang kita perbuat?

Ada 2 hal yang menurut saya membuat feedback ini penting menurut saya...
1. Kita jadi TAHU-APA yang orang lain rasakan atas apa yang kita perbuat. Sebatas tahu... hanya itu.
2. Kita mampu MENGOREKSI diri atas tanggapan orang lain terhadap perbuatan kita. Sebagai sarana perbaikan.

Pun saya rasa tidak selamanya kita harus selalu mengambil no. 2, karena memang dikembalikan pada diri masing-masing baginya feedback itu untuk apa, serta belum tentu selalu koreksi/perbaikan atas tanggapan itu akan berdampak lebih baik...



*dalam kebingungan dan keresahan akan perbuatan yang selama ini telah dilakukan*